. Jelajahi Keindahan Indonesia: Masyarakat Tengger ~Kekayaan Budaya~

Masyarakat Tengger ~Kekayaan Budaya~

Masyarakat Tengger banyak tinggal di sekitar Gunung Bromo yang tersebar di 38 desa di Pegunungan Tengger. Salah satunya adalah Desa Ranupane. Kerukunan umat beragama di desa ini patut diacungi jempol. Kerja keras adalah bagian dari hidup mereka. "Bekerja berarti makan untuk hari esok", itulah falsafah hidup mereka. Pura, masjid dan gereja harus dihargai dan dijaga walaupun mereka hidup berlainan agama.

Matahari terbit di ufuk timur kian merangkak naik memancarkan sinarnya di pagi hari yang membias di antara kabut putih di sekitar perkampungan Desa Ranupane, kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru. Ranupane adalah sebuah desa di punggung Gunung Semeru yang sebagian besar masyarakatnya adalah Suku Tengger yang telah berbaur dengan masyarakat Jawa.

Transportasi ke desa ini tergolong sulit, tidak semua kendaraan dapat melewatinya,hanya sekelas jip dan truk saja. Kondisi jalannya tidak beraspal dan medan yang ditempuh melalui pegunungan tipis, menanjak, menyusuri lereng berliku-liku atau menyusuri jalan berlubang. Naik truk atau jip di daerah ini punya keunikan tersendiri. Jip diisi 20 penumpang yang seluruhnya diharuskan berdiri, sedangkan truk diisi 50 orang yang berdiri berdesak-desakan. Selain penumpang, kendaraan ini juga membawa kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat Ranupane.

Ranupane terletak pada ketinggian 2200 m dpl, yang ditandai dengan 2 danau yaitu Ranupane dan Ranuregolo. Dari desa ini terlihat megahnya pucak Semeru yang perkasa mengepulkan asap ke angkasa. Desa ini adalah pintu gerbang atau persinggahan terakhir untuk mendaki Gunung Semeru. Udaranya sangat dingin, apalagi di musim kemarau bisa mencapai 3 derajat Celsius di malam hari. Maka tak heran, bila di musim kemarau desa ini sering dilanda hujan es. Anda harus menyiapkan baju hangat, penutup kepala dan kaus tangan untuk melawan dinginnya udara.

Mayoritas penduduk yang bermukim di Ranupane adalah suku Tengger, dengan ciri khasnya yang tidak pernah lepas dari kain sarung. Konon menurut mereka sarung dapat melawan dinginnya udara yang selalu menyelimuti kawasan ini. Suku Tengger adalah merupakan sisa pelarian masyarakat Majapahit. Sewaktu Islam masuk ke Majapahit, mereka lari dan bersembunyi di dataran tinggi, menutup diri dan memelihara tata cara kepercayaannya. Tabir sejarah suku Tengger masih misteri, asal nenek moyangnya belum terbukti hingga kini.

Rumah-rumah permanen terlihat di perkampungan ini yang diplester dengan semen, menandakan ada kemajuan kehidupan masyarakat setempat yang cukup sejahtera. Roda perekonomian mereka ditopang oleh produksi kentang, kol, daun bawang, wortel dan lain-lainnya yang ditanam di sekitar perbukitan. Mencari kayu bakar di hutan atau di gunung adalah pekerjaan mereka. Baik pria maupun wanita secara bersama bahu membahu bekerja di sawah atau di ladang. Bekerja bagi mereka adalah makan untuk hari esok, itulah falsafah hidupnya.

Berbagai macam agama ada di sini. Mulai dari Hindu yang telah berbaur dengan kepercayaan Jawa yang ditandai dengan adanya pura. Islam dengan adanya masjid dan gereja bagi umat Kristen. Uniknya kerukunan umat beragama di sini terasa begitu damai. Toleransi sangat mereka junjung dan juga saling menghargai. Bila ada perayaan hari besar salah satu umat beragama, maka yang lainnya ikut berpartisipasi merayakannya.

Bahasa pengantar sehari-hari masih terdengar adanya bahasa Tengger dan bahasa Jawa yang telah berbaur, walaupun mereka telah mengenal dan lancar menggunakan bahasa Indonesia. Sebagai bahasa pengantar dengan pendatang mereka masih cenderung menggunakan bahasa Jawa.

Masyarakat Ranupane mempunyai kebiasaan hidup damai, sederhana, rajin bekerja dan hemat. Bila ada warga yang melakukan kesalahan atau pelanggaran hanya cukup ditindak oleh kepala desa. Namun bila setelah mendapatkan tindakan masih juga melanggar maka akan didiamkan oleh seluruh warga.

Alam pegunungan tampak indah dan berkabut bila di sore hari. Pertumbuhan penduduk di sini masih sangat kecil. Saat ini Ranupane sudah semakin semarak karena sudah mulai banyak dikunjungi oleh wisatawan asing dan lokal. Kabarnya terjadi peningkatan kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun.

Angin segar tidak pernah berhenti di desa Ranupane. Keindahan alam dan budaya yang dilestarikan masyarakatnya memberikan corak tersendiri bagi keragaman hidup mereka. Ranupane memang patut dilestarikan. Desa ini menyimpan berbagai potensi keindahan alam dan kerukunan umat beragama.

No comments:

Post a Comment