. Jelajahi Keindahan Indonesia: Museum Trinil ~Museum~

Museum Trinil ~Museum~

Trinil, adalah nama yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sejak mempelajari ilmu sejarah ketika masih di bangku sekolah kita sudah dikenalkan dengan nama Trinil ini. Bahkan nama Trinil juga sangat dikenal di seluruh dunia, terutama di kalangan orang-orang yang mempunyai perhatian khusus di bidang antropologi khususnya sejarah manusia.

Sebagai bentuk perhatian maka dibangunlah sebuah museum di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Jawa Timur. Kemudian, museum tempat menyimpan koleksi fosil tersebut lebih dikenal dengan nama Museum Trinil.

Arti Trinil ini konon berasal dari pemberian nama oleh Eugene Dubois seorang berkebangsaan Belanda. Beliau adalah orang pertama yang menemukan fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus yang ditemukan di utara kota Ngawi, di Desa Karang Tengah. Pithecanthropus Erectus inilah yang kemudian diyakini sebagai jawaban atas missing link dari rangkaian teori evolusi Darwin.

Kata TRI diambil karena lokasi tersebut berada di antara tiga desa. Di sebelah timur aliran sungai Bengawan Solo itu adalah Desa Ngancar. Sedangkan di sebelah barat ada Desa Kawu. Dan di sebelah utara terdapat Desa Gumarang.

Sementara kata NIL karena dulunya para kompeni itu menyebut sungai itu dengan nama NIL. Maka diambillah nama Trinil itu, jadi Trinil itu sebenarnya merupakan nama sebuah situs. Dalam beberapa buku sejarah ada yang menyebutkan bahwa Trinil adalah nama sebuah desa, padahal itu tidak benar. Yang benar adalah sebuah situs yang bernama Trinil dan kemudian menjadi nama sebuah museum yaitu Museum Trinil.

Kabarnya fosil temuan Eugene Dubois yang lahir di kota Eijsden, Belanda pada 28 Januari 1858 itu terdiri dari tiga jenis fragment. Yaitu berupa gigi geraham dan atap tengkorak yang ditemukan pada 1891 dan tulang paha yang ditemukan setahun kemudian (1892). Penemuan ini tidak berlangsung bersamaan karena setelah penemuan pertama sungai Bengawan Solo meluap, sehingga pencarian dihentikan. Setahun kemudian baru ditemukan kembali fragment tulang paha yang jaraknya sekitar 12 meter dari titik penemuan pertama. Dimungkinkan hal ini terjadi karena gerakan dari lapisan bumi.

Fosil asli temuan Eugene Dubois kabarnya sekarang berada di Belanda, sementara yang di Museum Trinil ini hanya replikanya saja. Semua fosil yang berada di museum ini merupakan replika, mengingat nilainya yang sangat tinggi hingga tak ada yang berani meletakkan di museum ini. Kalau pun ada fosil manusia yang ditemukan biasanya langsung dibawa ke museum Suaka di Trowulan.

Trinil sendiri sangat terkenal di luar negeri seperti Belanda, Perancis, Kanada dan negara lainnya. Terlebih bila dilihat dari sisi sejarahnya yang sangat terkenal. Jadi tidak aneh bila para pengunjung yang datang, terutama sebelum krisis moneter menimpa, adalah pengunjung yang berasal dari luar negeri. Kabarnya ada wisatawan dari Jerman yang sering berkunjung ke museum ini. Tetapi setelah krisis moneter melanda, jumlah wisatawan asing yang datang menurun drastis. Yang ada sekarang hanya satu-dua saja, seperti dari Belanda, Australia dan Jepang. Konon mereka datang hanya sekedar untuk penelitian. Yang diteliti tentu saja fosil binatang yang ada di sana, sementara untuk fosil manusia biasanya mereka hanya meneliti lokasi penemuannya saja.

Lokasi penemuan fosil di Trinil ini semula sempat ditandai, namun arus air yang kadang begitu besar melalui sungai Bengawan Solo membuat tanda itu hilang. Yang tersisa hanyalah petak-petak tanah bekas penggalian. Namun di dalam lokasi museum masih ada tanda, sejenis monumen yang bisa dijadikan acuan di mana lokasi fosil-fosil Jawa purba itu ditemukan. Tanda di monumen itu menunjuk ke posisi 175 meter arah sebelah timur, tepat di sisi sungai yang melintas di dekat museum itu.

Terlepas dari untaian cerita seperti yang tertulis dalam sejarah ditemukannya fosil-fosil di seputar Trinil, dari hari ke hari ternyata ada saja fosil yang terus ditemukan. Para penambang pasir yang menggantungkan hidupnya dengan mengais pasir di sekitar aliran sungai Bengawan Solo itu, kadang mereka juga menemukan potongan-potongan fragment tulang yang diyakini merupakan fosil, walaupun mereka sendiri menyebutnya dengan balung (dalam bahasa Jawa yang berarti tulang).

Pemandangan yang bisa dilihat pada pagi hari adalah banyaknya penambang pasir yang ada di sekitar aliran sungai Bengawan Solo, mereka mengeruk pasir yang ada di seberang dan diangkut dengan perahu ke sisi sungai yang lain. Hampir seharian mereka mengerjakannya, hal itu harus mereka lakukan karena hanya itulah mata pencahariannya. Tidak hanya laki-laki dewasa, tapi ada pula wanita dan anak-anak.

Untuk bisa mencapai lokasi seperti yang ditunjukkan dalam monumen di sekitar museum, kita harus menyeberangi sungai dengan cara menumpang pada perahu penambang-penambang pasir. Kadang kita akan dibuat kaget dengan adanya penawaran dari beberapa orang penambang. Para penambang ini kerap menemukan fosil dan kadang mereka menawarkan pada beberapa orang yang datang melihat ke sana. Para penambang beranggapan bahwa setiap orang yang datang pasti sedang mencari atau kolektor fosil, sehingga bila mereka menemukan tulang saat menambang maka mereka akan menyimpannya dan akan ditawarkan pada setiap orang yang datang ke lokasi penambangan pasir di sungai Bengawan itu. Padahal seharusnya fosil-fosil ini diserahkan pada pihak yang berwenang karena memiliki nilai sejarah yang tinggi, dan yang lebih memprihatinkan adalah fosil tersebut ditawarkan dengan harga yang sangat murah, mungkin karena mereka tidak tahu dan tidak mau tahu soal nilai sejarah yang terkandung dari fosil yang mereka temukan. Mereka juga tidak tahu apakah itu fosil manusia purba atau fosil binatang. Yang pasti, setiap mereka menemukan tulang pasti mereka simpan, begitu melihat orang asing yang datang akan langsung mereka tawarkan.

Fenomena lain, kabarnya beberapa pencari fosil yang berasal dari daerah Sangiran ada yang datang ke Desa Kawu untuk mencari fosil. Ini terjadi karena di daerah asalnya fosil-fosil yang nilai jualnya tidak terlalu mahal mereka jadikan sebagai cinderamata, seperti menjadi batu akik atau pipa rokok.

Menurut cerita, penemuan fosil oleh masyarakat setempat di situs Trinil diawali oleh penemuan Wirodihardjo, oleh karena itu dia lebih dikenal dengan panggilan Mbah Wirobalung. Umumnya fosil yang ditemukan dan dikumpulkannya berupa fosil binatang, seperti tulang dan gading gajah. Pencarian itu dilakukan dengan cara sederhana seperti di cangkul sehingga bentuk fisik dari fosil temuannya rata-rata patah di beberapa bagian.

Mbah Wirobalung sendiri meninggal pada usia 80-an. Sebagai penghargaan, pemerintah setempat merenofasi rumah tinggal yang juga merupakan tempat koleksi fosil temuan yang sudah dilakukannya sejak 1968. Pada tahun 1980 pihak Pemkab Ngawi mulai mendata koleksinya dan bantuan pun diberikan dengan dibangunkan rumah kecil ukuran 6 x 10 meter untuk tempat koleksinya. Lokasinya masih di dalam area museum yang sekarang. Sepuluh tahun kemudian dilakukan renovasi total (1990), melalui anggaran APBD tingkat I sebesar 1 milyar rupiah.

Peresmiannya dilakukan oleh gubernur Jawa Timur, kala itu dijabat oleh Soelarso. Luas kawasan museum sekitar 1 hektar dan 2 hektar lahan diluarnya. Kawasan dalam museum merupakan tanggung jawab dinas suaka dan purbakala. Sementara diluarnya adalah otoritas pemerintah Kabupaen Ngawi.

Fosil Sejarah

Memasuki Desa Sukokawu, yang berjarak lebih kurang 12 kilometer arah barat dari pusat kota Ngawi. Tepat di ujung jalan sebelum masuk ke lokasi terdapat gapura besar berwarna hitam, dari sana untuk bisa mencapai Museum Trinil masih harus menempuh perjalanan sejauh 3 kilometer lagi. Museum yang berada di Dukuh Pilang itusekilas terasa gersang, namun hal itu tidak terasa lagi bila kita memasuki area museum karena beberapa pohon besar berdiri kokoh dan memberi keteduhan di beberapa pelataran museum. Belum lagi adanya sebuah pendopo yang berada tepat di depan pintu masuk. Tempat ini sering digunakan oleh para pengunjung untuk sekedar melepaskan lelah dan beristirahat setelah berputar melihat koleksi fosil yang ada di museum ini.

Di dalam museum terdapat sekitar 450 fosil purbakala yang sudah diregistrasi. Sedangkan sekitar 1.000 fosil masih belum diregistrasi dan disimpan di laboratorium. Sebagian besar fosil yang ada di sana memiliki masa yang sama, jaman pleistosin tengah, usianya antara 1 juta hingga 500 tahun silam. Termasuk golongan homoerectus yaitu pada jaman batu.

Tidak ada perawatan khusus untuk fosil-fosil itu, hanya dengan bantuan silikon atau silica gel untuk menghindari pelembaban atau penjamuran di dalam etalase, karena sangat tidak mungkin untuk mengangkat atau membersihkan secara langsung atas fosil-fosil itu mengingat kondisinya yang relatif rapuh. Butiran-butiran silikon itu dimasukkan dalam gelas kecil dan diletakkan dalam etalase kaca tempat fosil-fosil itu disimpan.

Koleksi fosil yang tergolong baru adalah berupa gading gajah sepanjang 1,45 meter, kerang dan fragment tulang tanduk kerbau yang ditemukan hampir bersamaan pada sekitar bulan Oktober 1998. Fosil tersebut ditemukan dari berbagai daerah di luar situs Trinil. Demikian pula dengan fragment tanduk kerbau yang ditemukan oleh masyarakat sekitar. Kabarnya proses penggalian fosil yang ditemukan secara tidak sengaja itu dilakukan secara sederhana sehingga kondisi fosilnya patah-patah.

Selain itu ada pula gading gajah yang ditemukan tahun 1986. Ditemukanpada lokasi sekitar 500 meter di utara Sungai Bengawan Solo. Kondisinya juga sudah patah menjadi beberapa bagian, juga karena proses penggaliannya yang sederhana. Bila gajah sekarang adalah jenis Elephast, gadingnya lurus ke depan dengan panjang maksimal 1,5 meter. Sementara jenis yang ditemukan fosilnya itu bentuk gadingnya agak menyamping dan panjangnya mencapai 3 meter lebih. Di Museum Trinil ini juga dapat dijumpai fosil gigi gajah, tulang badak dan sapi.

  

No comments:

Post a Comment