. Jelajahi Keindahan Indonesia: Candi Belahan Yang Terlupakan ~Candi~

Candi Belahan Yang Terlupakan ~Candi~

Masyarakat Jawa umumnya akrab dengan bangunan candi. Ketika orang berbicara tentang candi, benak kita secara otomatis dituntun ke sebuah bangunan kokoh yang tersusun atas batu-batu yang ditumpuk secara teratur dan mementuk undakan berumur ratusan tahun. Lebih spesifik lagi, citra bangunan candi identik dengan Borobudur maupun Prambanan yang berukuran sangat besar dan tersohor di seluruh penjuru dunia.

Padahal, masih banyak candi-candi kecil yang bertebaran di pelosok-pelosok desa dan pedalaman lereng-lereng pegunungan, yang namanya bahkan masih asing di telinga kita. Candi Belahan, misalnya, merupakan satu dari sekitar 80 bangunan candi kecil yang ditemukan di seputar Gunung Penanggungan.

Terletak pada ketinggian sekitar 700m di atas permukaan laut, candi berada di wilayah Dusun Belahan, Desa Wonosonyo, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, tepatnya sekitar 40km dari Pasuruan di jalur Surabaya-Malang. Melalui jalan perbukitan yang menanjak dan berkelok, anda akan melihat pemandangan hutan pohon akasia dan areal ladang penduduk. Jika cuaca cerah, maka kepenatan selama perjalanan akan terobati dengan melihat pemandangan indah dari puncak Gunung Penanggungan. Suasana sejuk, tenang dan asri khas pedesaan akan semakin sejuk dengan sambutan ramah penduduk setempat, yang sudah tidak asing dengan wisatawan karena desa mereka sering menjadi rute pendakian menuju puncak Gunung Penanggungan dengan ketinggian 1653dpl.

Candi Belahan, yang sebenarnya merupakan petirtaan, sangat unik dan mempesona karena salah satu patungnya, Dewi Laksmi, mengucurkan air melalui kedua puting susunya yang ditampung di sebuah kolam berukuran kurang lebih 6x4m di depannya.

Candi ini memiliki dua patung yaitu patung Dewi Sri dan Dewi Laksmi, yang merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran. Kedua patung tersebut berdiri berdampingan di depan dinding yang tersusun dari batu bata yang dihiasi dengan relief setinggi sekitar tiga meter menampilkan Wisnu menunggang Garuda. Namun hanya patung Dewi Laksmi yang mengucurkan air sepanjang tahun, bahkan di musim yang paling kemarau sekalipun. Air yang mengucur dari puting susu arca ini digunakan oleh masyarakat setempat untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi, memasak dan mencuci. Oleh masyarakat setempat Candi Belahan ini lebih populer dengan sebutan Sumber Tetek.

Setiap hari, masyarakat sekitar candi menyusuri jalan yang berliku, naik-turun bukit serta melewati jalan setapak yang membelah hutan untuk mengambil air keperluan sehari-hari dengan menggunakan ember atau jerigen. Mereka harus bolak-balik beberapa kali untuk mengisi penampungan air di rumah, dari pagi hingga menjelang malam.

Di sumber air itu masyarakat tak hanya mengambil air; mereka juga mandi dan mencuci. Para pria mandi bertelanjang dada menceburkan diri di kolam candi, sedangkan kaum wanita mandi di tempat mandi terpisah tak jauh dari lokasi candi. Sementara anak-anak setempat beramai-ramai menceburkan diri untuk mandi di kolam candi sepulang dari sekolah maupun mengaji.

kebutuhan air bersih dari Petirtaan Candi Belahan ini tak hanya dinikmati oleh masyarakat sekitar candi yang dikenal sebagai penduduk Belahan Jawa, melainkan juga  oleh warga desa yang terletak jauh di kaki gunung dan dikenal sebagai warga Belahan Nangka, meliputi Dukuh Genengan, Jeruk Purut, Gedang, Pojok, Karang Nangka, Dieng dan Kandangan. Juga, warga Kunjoro yang bermukim berbatasan langsung dengan Mojokerto.

Memang, air yang mengalir dari puting susu Dewi Laksmi ini bening dan sejuk. Untuk dikonsumsi langsung pun tidak masalah. Bahkan, menurut sebagian warga setempat, air tersebut dipercaya memiliki khasiat tertentu seperti menjadikan kita awet muda dan menyembuhkan penyakit tertentu.

Lokasi ini bahkan sempat membuat salah satu stasiun televisi swasta nasional untuk menggelar acara uji keberanian beberapa waktu yang lalu karena diduga tempat ini ada "penunggunya". Sosok penunggu itulah yang dipercaya ikut menjaga kelestarian situs petirtaan Sumber Tetek tersebut sejak dulu. Konon, pada masa penjajahan Belanda ada upaya untuk mengangkut salah satu ornamen candi, tetapi tidak ada satu orangpun yang mampu mengangkatnya. Akhirnya upaya tersebut gagal dan keaslian situs Sumber Tetek tetap terjaga hingga kini.

Candi Belahan, atau Sumber Tetek, dibangun pada akhir masa pemerintahan Airlangga pada abad ke-10. Airlangga menjadi raja setelah dinobatkan pada 1019, dan dikenal sebagai sosok raja yang bijak. Disebut sebagai titisan Dewa Wisnu, Airlangga berhasil memajukan bidang pertanian, perkebunan dan perniagaan, termasuk menjalin hubungan dengan dunia luar. Pemerintahannya mengalami kemajuan pesat pada 1031, ditandai dengan kepindahan ibukota kerajaan dari Wuwutan Mas ke Kahuripan. Selain kemakmuran dan ketrentaman yang dirasakan oleh rakyatnya, pada masa itu bidang kesenian juga mengalami kemajuan, terutama seni sastra. Banyak prasasti dan kitab kesusastraan dibuat, dan salah satu yang terkenal adalah Kitab Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa.

Namun kejayaan Kerajaan Kahuripan ternyata tidak dapat berlangsung lama. Anak tertua Airlangga, Dewi Kilisuci, menolak tahta kerajaan dan memilih menjadi pertapa, dan kemudian dibuatlah suatu pertapaan di Pucangan (Gunung Penanggungan). Guna mencegah terjadinya perebutan tahta antara dua adik laki-laki Dewi Kilisuci, Airlangga membagi dua kerajaannya. Atas petunjuk seorang Brahmana, yaitu Mpu Bharadha, kedua kerajaan itu dibagi menjadi Kerajaan Jenggala (Singasari) dan Panjalu (Kediri) dengan batas wilayah Sungai Brantas. Meski begitu, jauh di kemudian hari terlibat peperangan perebutan kekuasaan.

Airlangga kemudian mundur dan menjadi seorang pertapa dengan nama Resi Gentayu sampai wafat pada 1049. Selama menjadi pertapa, Airlangga memiliki beberapa tempat pertapaan di lereng Gunung Penanggungan, dan salah satunya adalah Candi Belahan. Penghormatan kepada Raja Airlangga atas jasanya membawa kemakmuran bagi rakyatnya tercermin dari patung Dewi Sri dan Dewi Laksmi yang berada di candi tersebut. Konon, beberapa orang percaya kalau candi ini merupakan makam tempat menyimpan abu Raja Airlangga, sehingga beberapa orang datang khusus untuk berziarah.

Namun eksotika Candi Belahan ini agaknya luput dari perhatian pemda setempat karena letaknya yang terpencil di lereng gunung. Akses jalan menuju ke lokasi yang menanjak dan berliku-liku diperparah dengan kondisinya yang sebagian rusak. Ini menjadi kendala bagi mereka yang ingin melakukan perjalanan ke sana. Selain itu, kesadaran warga setempat untuk ikut memelihara situs kuno tersebut masih kurang. Masih banyak sampah bungkus sabun, pasta gigi dan detergen terdapat di sekitar candi maupun di dalam kolam candi, meskipun sudah terpancang papan peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Namun demikian, kesegaran air Sumber Tetek dan keindahan alamnya tetap memiliki daya tarik yang kuat.


No comments:

Post a Comment